Pil Biru, Apa Hebatnya Sampai Diburu

Sildenafil atau pil biru kerap dianggap solusi masalah ranjang.  

Sildenafil atau pil biru kerap dianggap solusi masalah ranjang.  


VIVAlife – Malam itu kawasan jalan Matraman terasa lengang. Kira-kira jam 8 malam. Satu dua mobil tampak merapat, berhenti sebentar, dan lalu pergi. Begitu seterusnya. Beberapa pengemudi juga terlihat turun dari mobil, berbincang serius, setelah itu juga melajukan mobil entah kemana.

Ya, si empunya mobil ini ternyata menghampiri satu dari puluhan gerobak yang tampak berjajar sepanjang jalan. Gerobak-gerobak kecil yang mengklaim memiliki produk obat kuat pria.

Mereka yang hanya berhenti sebentar, biasanya melakukan transaksi jual beli hanya dengan membuka kaca mobil, tanpa harus turun. Menurut penjaja, mereka sudah langganan yang paham benar khasiat obat kuat tersebut. Tinggal menyebut jenis, bayar, dan obat yang diinginkan sudah di tangan. Lebih mirip layanan drive thru restoran cepat saji.

Beda dengan mereka yang harus turun dan berkonsultasi terlebih dulu dengan penjual. Biasanya mereka adalah "pemula" di dunia viagra atau pil biru. Demikian obat kuat ini kerap disebut. Pemandangan serupa mungkin juga terjadi di beberapa kawasan lain, yang juga dipenuhi gerobak-gerobak obat kuat seperti ini.

Tapi apa hebatnya obat kuat hingga banyak dicari orang? Para penjual gerobakan ini tak memasang iklan besar. Tidak juga menyebar selebaran. Tapi toh dagangannya laris manis.

Mungkin karena harganya yang murah, kurang dari Rp50 ribu. Jauh di bawah harga resmi yang dibandrol di apotek, yang mencapai ratusan ribu. Bisa jadi. Atau mungkin juga karena para pembeli tak harus membawa resep dokter. Ini juga bisa.

Yang jelas mereka mencari karena ingin lebih kuat untuk urusan ranjang. Entah itu sebagai solusi untuk masalah ejakulasi dini atau untuk menambah durasi waktu aktivitas bercinta. Tapi apa jaminannya?

Candu Pil Biru

Pil biru yang dalam dunia medis disebut sildenafil ini, awalnya diperuntukkan bagi pasien kardiovaskular dan gangguan tekanan darah tinggi. Pertanyaan kembali muncul soal keterkaitan pil biru dengan fungsi alat vital. Menurut seksolog dr. Boyke Dian Nugraha, saat obat tersebut diminum para penderita jantung dan tekanan darah tinggi, efek sampingnya justru pada alat vital. 

Para pasien, khususnya pria kerap merasakan ereksi. Sejak saat itu, sildenafil beralih fungsi menjadi viagra. Solusi kilat untuk masalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Di pasaran viagra dijual dengan beragam dosis. 25 mg hingga 100 mg. Perbedaan dosis inilah yang membuat para pengguna viagra mengalami kecanduan. Hal ini dikarenakan adanya zat imun obat yang menambah kebal pemakainya.

Saat sudah tidak mempan dengan dosis rendah, pengguna harus menambah dosis lebih tinggi. Padahal, semakin tinggi dosis obat, semakin tinggi pula ancamannya untuk jantung.

Laris Manis Gerobak Ajaib

Beberapa waktu lalu, penelitian Victory Project yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap, sedikitnya ada 45 persen obat sildenafil di Indonesia yang dipalsukan. Artinya, hampir setengah dari pengguna tidak mendapatkan obat yang sesuai standar.

Dari 157 gerai, termasuk apotek, toko obat, situs online, dan penjual gerobak, ditemukan 518 sildenafil palsu. Mirisnya, 100 persen sildenafil palsu ini ada di gerobak-gerobak pinggir jalan. Toko obat sebesar 56 persen, situs internet 33 persen dan apotek 13 persen.

Tapi palsu juga tak berarti tidak memiliki kandungan sildenafil untuk kejantanan. Hanya takarannya saja yang berbeda. Misalnya, pada kemasan tertulis kandungan sildenafil 100 mg, bisa jadi kandungan sildenafil–nya hanya 20 mg.

Namun berapa banyak pengguna yang mau meluangkan waktu untuk melakukan pengecekan terhadap kandungannya. Atau setidaknya memastikan keasliannya. Diakui Rizal, salah satu pemilik gerobak pil biru di jalan Matraman, dagangannya tetap diminati pelanggan. "Setiap malam pasti ada saja yang datang," ujarnya.

Rizal juga tak hanya menyediakan pil biru produksi China dan Amerika. Ia juga melengkapi dagangannya dengan obat oles, jamu herbal, hingga kondom beraneka bentuk. Dengan variasi ini, Rizal tak perlu menunggu lama mendapat uang Rp200 ribu semalam. "Kalau lagi untung, sehari bisa Rp500 ribu," tambahnya.

Sayang, Rizal yang sudah dua tahun mencari nafkah lewat gerobak ajaib ini tak pernah tahu efek buruk dari dagangannya. Terutama untuk obat-obatan oral.

"Kalau obat semprot saya tahu. Bisa membuat alat vital tahan lama. Lebih aman dari obat minum. Kalau pil China lebih ampuh. Harganya lebih murah tapi komposisinya lebih tinggi," jelasnya.

Sildenafil 100 mg buatan Amerika dijual dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan buatan China yang bertuliskan 1000 mg, diatas takaran normal, harganya Rp25 ribu.

Asli Tapi Palsu

Dengan harga tersebut, jelas pil biru ini masih terjangkau. Soal keaslian, nomor sekian. Karena satu-satunya cara menguji keaslian hanya bisa dilakukan di laboratorium. Secara kasat mata sulit dibedakan mana yang asli, mana yang palsu. Kemasannya mirip, lengkap dengan tempelan hologram.

Peredaran pil biru palsu seperti ini tak hanya ada di Indonesia. Di Hongkong, 144 pria tercatat mengalami hypoglycemia atau gula darah menurun, 3 meninggal, 1 koma, dan 1 orang mengalami kerusakan otak akibat pil biru palsu. Sama halnya di Singapura. 150 mengalami hypoglycemia, 4 meninggal, 7 dan koma.

Saat dilakukan penelitian terhadap sildenafil palsu, ditemukan beragam jenis komposisi pembentuk pil biru. Diantaranya: tinta biru, amfetamin, antibiotik, anti diabetes, paracetamol, zat pengikat, kafein, laktosa, dan talk.

dr Melva Louisa SSi. MBiomed, salah satu anggota penelitian juga menambahkan, hingga saat ini belum dapat dipastikan secara jelas, mengapa pil biru itu dibuat dengan bahan-bahan yang tidak seharusnya. "Sildenafil 100 mg, ya isinya sildenafil saja."

Antara Sugesti dan Solusi

Terlepas dari seberapa kandungannya, penggunaan obat kuat ini juga berkaitan dengan sugesti. Baik sugesti positif ataupun negatif. Mereka yang tersugesti positif, sebagian besar berhasil merasakan khasiat obat. Menjadi lebih kuat.

"Kalau sudah tersugesti, maka pusat seks otak akan terangsang," kata Boyke. Lebih lanjut pakar seks ini juga menjelaskan bahwa kandungan minim sildenafil dalam pil biru palsu tetap berefek. Apalagi untuk mereka yang mengalami disfungsi ereksi ringan.

Jadi bagi mereka yang tidak memiliki masalah disfungsi ereksi, sebenarnya tak butuh obat-obatan seperti ini. Tak perlu juga untuk alasan tahan lama. Karena kejantanan bukan diukur dari durasi waktu bercinta.

"Seandainya mereka tahu, keperkasaan mereka di tempat tidur adalah siksaan bagi wanita, pasti mereka akan berpikir ulang untuk mengkonsumsi viagra. Area gential wanita hanya mampu bertahan berhubungan intim selama maksimal 15 menit, lebih dari itu bisa menyebabkan lecet atau luka" demikian papar Boyke.

Sebenarnya masalah disfungsi ereksi ini bukanlah aib atau soal harga diri pria. Ini soal kelainan pada pembuluh darah, efek penggunaan obat, obesitas, diabetes, darah tinggi, sindrom metabolisme, stres, dan atau gaya hidup tak sehat.

Namun pada kenyataannya, banyak yang masih risih berkonsultasi ke dokter. Lalu memilih jalan pintas lewat pil biru.

Atau kalaupun ada yang berkonsultasi, para pria ini tidak secara blak-blakan mengungkap masalahnya. "Yang sakit si pria tapi yang daftar si istri, artinya mereka masih malu" cerita Boyke yang juga memiliki klinik konsultasi seks di kawasan Tebet.

Boyke mendirikan klinik Pasutri bukan tanpa alasan. Ia ingin para pria tak lagi malu untuk berkonsultasi soal kejantanan ataupun penyakit pria lainnya. Mengenai nama Pasutri yang diambil dari kata 'Pasangan suami istri' juga bukan sembarangan.

Menurut Boyke masalah disfungsi ereksi ini bukan saja milik pria atau suami, tapi juga milik pasangannya atau istri. Harus ada kompromi dalam mencari solusi keharmonisan rumah tangga.

" Kalau yang datang berdua dengan pasangannya, orang luar tidak akan tahu siapa yang sakit. Bisa dibilang ini sebagai kamuflase. Antara si istri yang ingin memiliki keturunan atau suami yang mengalami masalah kejantanan," kelakarnya.

Biasanya dalam menangani pasien, baik Boyke atau seksolog yang lain menggunakan pendekatan kekeluargaan. Tidak mengesankan dokter atau ahli, tapi lebih pada sahabat untuk menumpahkan permasalahan ranjang secara hangat.

"Disfungsi ereksi sama dengan sakit maag dan rematik." Kalimat ini yang selalu diungkap Boyke pada pasiennya. Yang membedakan hanyalah penyebab gangguan dari masalah tersebut. Oleh karena itu, dalam penyembuhan Boyke tidak pernah menyarankan pasiennya untuk bergantung pada viagra.

"Ubah gaya hidup itu kuncinya. Konsumsi makanan sehat, banyak istirahat, perhatikan jam tidur, dan terapi bisa menjadi solusi aman untuk masalah ini," pungkasnya.

24 May, 2013


-
Source: http://kosmo.vivanews.com/news/read/415390-pil-biru--apa-hebatnya-sampai-diburu
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Share this article :
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Saung Sule - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger